Selama Bumi Masih di Tangan Kita

“Ah… lelahnya hari ini!!” seru  Rizal putra pak Imam yang merebahkan tubuhnya ke sebuah pohon yang besar seraya mengipasi badannya dengan handuk di lehernya.

“Ya…begini nih nak kerjaan petani!” ucap pak Nazier tetangga pak Imam yang juga sedang istirahat setelah berapa lamanya mencangkul.

“Pak!! Istirahat dulu, nih ibu sudah siapkan makanan!” seru Rizal pada ayahnya yang sedang asyik mencangkul sawahnya.

“Bapakmu tuh rajin banget kalo disuruh nyangkul! Padahal hasilnya juga gak kan berkembang!” ujar pak Sholeh.

“Ya, tapi dengan hasil ini saya bisa sekolah, pak!” jawab Rizal seraya membuka bungkusan nasi yang tadi telah dibekalkan oleh ibunya.

Pak Imam kemudian datang menghampiri mereka seraya tersenyum puas.

“Capek kamu, nak?” ujarnya seraya menepuk bahu Rizal.

“Ah, biasa!” ucap Rizal.

“Kamu eman-eman Rizal, punya kesempatan sekolah sarjana, malah ambil petani juga! Nilai kamu kan bagus? Apalagi sekolah di sekolah favorit!” ujar pak Sholeh lagi.

“Ya, mau gimana lagi, hati saya udah di pertanian!”

“Ah, ditanamkan dari bapak kamu tuh yang ulet sama kerjaan taninya!” ledek pak Nazier.

Pak Imam hanya tersenyum.

“Memangnya dari kecil kamu udah cita-cita mau jadi petani kayak bapakmu?” tanya pak Nazier seraya memakan nasi bungkusnya.

“Sebenernya saya pengen sekolah di ITB jurusan Astronomi, tapi gak ada biaya.” Jawab Imam tenang.

“Apa itu Astronomi? Terrus kenapa malah milih jadi petani!” tanya pak Sholeh.

“Astronomi itu kan ilmu tentang langit, sedangkan  Agronomi itu ilmu tentang bumi. Astronomi tentang mimpi sedangkan Agronomi tentang kenyataan yang harus dijalani!” ucap Rizal seraya berlaga layaknya pujangga di atas panggung.

“Alah, nih bocah ngeluarin jurusnya. Tapi bagus juga! Gitu donk, dukung kita!!” seru pak Nazier.

“Terus, kapan majunya keluarga kamu, kalo semua keturunannya petani?” ledek pak Sholeh.

“Rizal ini sekolah Agribis, bukan petani!” ujar Pak Imam.

“Sama aja, gak jauh sama cangkul saya!” ledek pak Sholeh lagi.

Pak Nazier dan pak Imam tersenyum mendengar ledekan pak Sholeh seraya menikmati hidangan makan siang.

“Nah, itu dia! Saya Insya Allah akan menjadi sarjana Agribis yang membantu petani supaya maju!” Rizal membela diri.

“Ha…ha…ha…! Imam, kamu ajarkan apa anakmu ini? Pintar bicara!” ujar pak Nazier.

Pak Imam hanya mengangguk dan tersenyum mendengar gaya bicara putranya itu.

“Alah…sudah berpuluh-puluh tahun ada sekolah Agribisnis, mana hasilnya???? Toh, petani urusannya sama tanah doank!! Duit?? Kalau dateng musimnya!!!!” ledek pak Sholeh makin jadi.

“Kamu jangan patahin semangat pemuda seperti dia. Kalo niatnya baik, hasilnya pasti baik juga, Insya Allah.” Ujar pak Nazier.

“A..min,” ucap Rizal.

“Maju tidaknya petani bukan hanya tergantung orang lain, pak. Tapi petaninya juga. Kita jadi petani bukan hanya untuk makan sehari-hari kita saja, tapi makan untuk seluruh kalangan masyarakat. Kalau bukan petani, lah siapa lagi?” pak Imam mulai angkat bicara.

“Bapak gak lihat? Gedung sekarang bukan hanya tinggi, tapi luas dan lebar! Kemana nantinya sawah kita? Apa harus kita mencangkul di atas gedung?? Bapak tahu? Setan sekarang banyak yang menghuni gedung tertinggi, gak mau kalah dia! Kenapa? Karena udah gak ada pohon lagi! Lahan kita sudah semakin sempit!” ujar pak Sholeh.

“Itu dia cobaan kita. Bagaimana kita sebagai petani harus bisa tetap maju dengan keadaan seperti itu.” ucap pak Nazier dengan berlaga layaknya orang besar yang berkuasa.

“Jangan hanya menunggu kabar angin doank dari berita-berita sekarang!” pak Imam menambahkan.

“Ya… kenapa harus kita? Pemerintah tuh yang terrus mendanai mereka-mereka yang mau bangun gedhong! Bagi mereka sih, dengan gedung tinggi itu maju, tapi bagi kita, itu suatu kemunduran yang nyata!” ujar pak Sholeh lagi kali ini ia berlaga layaknya dukun yang sedang mengingatkan pasiennya.

“Ini nih, kalau masalah kritik pak Sholeh, saya nyerah deh!” kata pak Imam.

“Ya… Selama bumi masih di tangan kita, harapan itu akan tetap ada, pak. Bukankah alam sahabat petani???” ujar Rizal seraya tersenyum menampakkan lesung pipinya.

Sejenak kemudian pak Sholeh tersenyum, dan ketegangan itu pun reda. Yang lain pun ikut tersenyum seraya menikmati makan siang yang penuh rasa syukur karena alam masih berada di pihak mereka. Ya… selama bumi masih di tangan kita, disanalah tanggung jawab kita. Dan usaha kita takkan pernah sia-sia selama harapan itu masih ada. Wahai petani penjaga kestabilan alam.

Karya: Sendy Ralistiya

Categories: Inspirasi | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Informasi Herbal

Kumpulan Tanaman Obat di Indonesia

Ilmu Statistik & Analisis Data

Media Berbagi Pengetahuan & Pengalaman Statistik

GO ORGANIC

Just another WordPress.com weblog

Taufik Akbar Bakri

Don't Worry Be Happy | "Dan Allah bersamamu di manapun kamu berada"

Sendy Ralistiya

Mimpi dalam Dunia Maya

%d blogger menyukai ini: