Taresna

karena cinta hanya butuh bicara

karena cinta hanya butuh bicara


Si Jahe Merah dibawa berlayar ke Pulau Madura, hendak dijadikan jamu di sana. Ia ikut kemanapun sang empunya membawa. Tiba-tiba ia terjatuh saat majikan membawanya mengendarai sepeda motor. Ia terhempas di Jembatan Suramadu. Hampir saja ia terjatuh ke lautan Selat Madura, ia tiba-tiba dihempas oleh mobil mercedes BMW hingga terpelanting jauh ke ujung jembatan yang kemudian dipungut seorang pedagang yang kebetulan ada di hadapannya. Dibawanya si Jahe Merah ke dalam kantongnya kemudian ia memberikannya pada putranya yang akan pulang ke ibunya di Sumenep berharap berguna untuk putranya tersebut. Dianggapnya si Jahe Merah sebagai benda keramat karena ditemukannya setelah berdoa mengharap kebaikan untuk hidup putranya.
Si Jahe Merah ikut sang putra ke Sumenep menemui ibunya. Diberikannya jahe tersebut pada ibunya berharap keberuntungan menghampiri mereka. Ditaruhlah si Jahe Merah bersamaan dengan Jahe asli Sumenep Si Jahe Desa namanya. Bertemulah mereka berdua di dapur yang tertata rapi.
“Huaai! Pasera sampeyan?”
“Maksute opo yo??”
“Oh, jowo kawo’ toh! Monggo. Nama sampeyan sapa?”
“Peyan iso ngomong jowo toh, Jahe Merah akuu,”
“Iso sih iso mba’ yu… keng je’ rasara. Monggo pake bahasa persatuan ae, bahasa Indonesia… saja Jahe Desa,”
“Whattt??? Peyan deso nemmen ta? Ampe’ nama ndeso ngono!”
“Jangan salah, nama boleh ndeso,, tapi masalah kualitas, juko’ sura baja kala!”
“Walah, bawa’-bawa’ nama kuthoku. Nomo kutthomu opo iki,”
“Weih… Sumenep, asalla artina tempat nginep. Kayak situ-situ ini, katanya kota Surabaya, eh molena ka Sumenep kiya,”
“Lapo mule nang Sumenep, aku iki tesesaat. Aku asli Suroboyo!”
“Truuz, engko’ harus nyanyi Wo wo wo getto!”
“Ih…!”
Si Jahe Merah dan si Jahe Desa terus menghabiskan waktunya untuk bertengkar. Si Laos, Bawang Merah, dan Cabe Jamu yang mendengarnya ikut menimpali. Bahan jamu yang terkenal ini membantu Si Jahe Desa untuk membalas perkataan sombong si Jahe Merah. Si Jahe Merah terdesak tak ada yang membantunya. Si Jahe Desa merasa kasihan kemudian mengisyaratkan pada temannya untuk berhenti. Si Jahe Merah dengan angkuhnya tetap merasa menang. Ia pun memisahkan diri dari gerombolan bahan jamu tersebut dan memilih bergabung dengan roti dan keju.
“Haiii…” sapa Jahe Merah berusaha akrab dengan mereka.
“eh kamu de pakturo bla bla bla….”
Jahe Merah kebingungan mendengan roti dan keju berbicara dengan Bahasa Belanda yang asing buatnya.
Jahe Desa dan teman-temannya tertawa. Jahe Desa pun menghampiri si Jahe Merah dan memperkenalkannya pada si Bunga Sedap Malam.
“Opo iki kug mambu menyan!” gerutu Jahe Merah.
“Jangan seperti itu, Sedap Malam sahabat saya sejak dulu. Jangan sembarangan mengejek dia!” Jahe Desa tidak terima.
Dengan muka kesalnya, ia pun terpaksa setuju berteman dengan si Sedap Malam. Sebenarnya Jahe Merah iri dengan keanggunan Sedap Malam yang begitu wangi ketika malam tiba. Namun Jahe Merah tidak suka Jahe Desa membelanya.
Keesokan harinya si ibu membawa tetangganya ke dalam dapurnya. Kaget si tetangga melihat Jahe Merah. Ia pun bercerita bahwa Jahe Merah sangat berkhasiat untuk dijadikan jamu. Si ibu pun tertarik untuk meramu sebuah jamu. Kaget si Jahe Desa, ia khawatir mendengarnya. Jahe Merah baru saja mengenal kota ini dan harus menjadi santapan orang di negeri ini. Ketika air mendidih, dan Jahe Merah pun dimasukkan ke dalamnya. Jahe Merah pasrah saja. Karena di tempatnya kini berada tidak ada yang menyukainya. Semua membencinya.
Tak beberapa lama kemudian sang Jahe Desa menceburkan diri ke dalam air mendidih tersebut.
“Lapo sampeyan???!!” kaget si Jahe Merah.
“Ora opo opo… :D” gurau si Jahe Desa.
“Maksut kowe opo?”
“Akan lebih berkhasiat lagi minuman ini jika saya ada di sini.” Jawab Jahe Desa.
“Cukup aku ae yang jadi minuman mereka, lapo kowe melu?”
“Situ boleh berbangga diri, tapi Saya asli Sumenep, tidak bisa diragukan,, bukankah berdua lebih baik daripada sendiri non,” rayunya.
“Trus buat apa? Wong si ibu iku maunya Cuma aku!”
“Tapi mau saya sama-sama situ!”
“????”
“Bule Taresna dha’ sampeyan, ngerti?”
“Taresna??”
“Heem,,”
“Opo podho mbe’ artine tresno?”
Si Jahe Desa hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Jahe Merah. Jahe Merah pun tidak kesepian lagi.
Ramuan jahe telah jadi. Dibawalah ramuan tersebut oleh sang ibu dan diberikan pada sang putra untuk dibawa ke ayahnya di Bangkalan. Diminumnya ramuan tersebut dan mengertilah sang ayah bahwasanya si ibu sedang merindukan sang ayah. Seraya tersenyum, digandengnya sang putra dan dibawanya kembali ke Sumenep. dan rujuklah keluarga mereka… ^_^
Jika cinta dapat terurai dengan bahasa, sampaikanlah dengan apa saja yang kamu mengerti. Jika orang yang kamu cintai memiliki perasaan yang sama, maka dengan sendirinya ia mengerti dengan bahasa kamu. Karena cinta hanya perlu bicara. *Taresna_SendYRaListiya_07032012*

Categories: Kampus Cemara Udang | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Informasi Herbal

Kumpulan Tanaman Obat di Indonesia

Ilmu Statistik & Analisis Data

Media Berbagi Pengetahuan & Pengalaman Statistik

GO ORGANIC

Just another WordPress.com weblog

Taufik Akbar Bakri

Don't Worry Be Happy | "Dan Allah bersamamu di manapun kamu berada"

Sendy Ralistiya

Mimpi dalam Dunia Maya

%d blogger menyukai ini: