Nama Saya Panca Muryono Eps. 1

_1- Riyanto dan Lastri beserta Putra, anak pertama mereka, sedang bahagia menyambut anak kedua di keluarga Riyanto. Mereka memberi nama anak itu Putri Riyanto. “Kamu harus jaga adik kamu ini, Putra!” Ujar Riyanto. “Pasti dong pa.. aku akan ,menjaganya selama aku hidup!” Ucap Putra dengan lantang. “Alaah, gayamu!” Ujar Lastri. “Ha ha ha..!” Mereka pun tertawa bersama. Sementara itu, Keluarga Muryono sedang berbahagia berlibur di Pantai Slopeng. Pak Muryono dan Ibu Muryono (Rihana) berjalan-jalan berdua mengelilingi pantai, sambil sesekali memperhatikan kelima anaknya yang bersenang-senang berenang di tepi pantai. Eka, sebagai anak sulung tak henti-hentinya mengomel kepada ke empat adiknya. Ia berumur 13 tahun dan sudah duduk di bangku SMP kelas 1. Dwi, anak ke dua mereka yang berumur 10 tahun. Anak ke tiga diberi nama Tri. Umurnya 6 tahun. Anak ke empat yaitu Patra yang masih berumur 3 tahun. Dan anak bungsunya diberi nama Panca. Ia baru berumur 1 tahun. “Jangan sampe ke tengah!!! Wik, Tri, jagain Patra!” seru Eka kepada adik-adiknya seraya terus menggandeng adik bungsunya, Panca. Panca terus berkeliat ingin mengikuti kesenangan kakak-kakaknya yang lain. Eka pun menggendongnya dan memberikan sebuah ban kemudian mengapungkan tubuh adik kesayangannya tersebut. Patra sedikit iri melihat Eka begitu sayang pada Panca. Patra pun merengek meminta diberikan ban yang sama pada kakak-kakaknya. *** Setahun berikutnya… Pak Muryono, yang berprofesi sebagai guru SD jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit. Ia telah lama menderita penyakit lemah jantung. Namun karena biaya yang sangat mahal, Pak Muryono tidak segera ditangani. Saudara ibunya, Pak Riyanto datang bersama Lastri, istrinya untuk menjenguk dan memberi bantuan. Kebetulan mereka adalahdokter. Pak Muryono tidak bisa diselamatkan, hingga akhirnya ia pun meninggal dunia. *** Dua tahun berikutnya, saat Panca bermain dengan teman-temannya di tanah lapang yang luas di dekat rumahnya, Panca tertarik pada penjual balon yang tak jauh dari tanah lapang tersebut. Panca menghampiri tukang tersebut dan dengan polosnya meminta kepada penjual tersebut untuk memberikan balonnya. “Kang, minta balonnya?” kata Panca seraya mengulurkan tangannya. “Uangnya mana?” kata penjual tersebut. “Uang???” Penjual balon itu teringat pada putranya di rumah, ia pun memberikan balonnya pada Panca. “Ya sudah, ini buat kamu. Jangan dibawa sama teman-teman kamu di sana ya… buat maen kamu sendiri aja. Biar gak ada yang ambil balonnya.” Ujar penjual balon tersebut. Panca mengangguk dan berterima kasih pada penjual balon itu. Ia pun membawa balonnya berlarian hingga terlepas balon itu dari genggaman tangannya. Dikejarlah balon itu hingga ia jauh dari rumahnya. Dari arah yang berlawanan, Putra sepupu Panca mengendarai sepeda dengan kecepatan tinggi. Sedangkan Panca terus berlari hingga nafasnya terengah-engah dan dadanya terasa sakit. Sangat sakit hingga ia terjatuh di tengah jalan. Putra terkejut melihat di depannya Panca terjatuh, hingga ia pun membelokkan setirnya tepat pada saat sepeda motor melintas di depannya. Kecelakaan pun tak terhindarkan. *** Di rumah sakit… ternyata ditemukanlah bahwa Panca memiliki penyakit yang sama dengan ayahnya. Di kamar tempat Panca dirawat, Eka memarahi Tri dan Patra. “Kalian kemana aja? Kenapa Panca ditinggal?” Eka mengintrogasi kedua adiknya yang terus saja merunduk ketakutan menghadapi kemarahan kakaknya. “Sudah mas, kasian Panca lagi istirahat.” Ujar Dwi. “Oh ya, bagaimana keadaan Putra? Kalian sudah menengoknya?” tanya Eka mengalihkan pembicaraan. “Entah, sepertinya parah. Apalagi di bagian kepala.” Jawab Dwi. “Kasian, anak seumuran Patra harus mengalami kecelakaan seperti itu. Patra, kamu harus hati-hati, ya.” Ujar Eka pada adiknya. Tak beberapa lama kemudian, Panca terbangun. “Aduuh!” seru Panca kesakitan oleh jarum infus ditangannya. Ibu yang duduk disampingnya pun segera mendekati wajah putra kesayangannya dengan mata berkaca-kaca. “Kenapa nak, mana yang sakit?” tanya sang ibu. “Yang ini ni bu… lepas ya bu… aku mu mainn…” keluh Panca. “Jangan ya… Panca sayang… nanti tambah sakit. Istirahat di sini dulu yar cepet pulang.” Ujar ibunya. “Ah ibu… tadi aku dikasih balon. Balonnya pergi. Aku harus kejar sebelun balonnya jauuuhh…” rengek Panca. Sang ibu tetap tidak mengijinkannya. Panca sangat marah. Hingga membentak ibunya yang masih sedih mendengar Panca memiliki penyakit yang sama dengan ayahnya. Eka dan Dwi pun membantu ibunya menenangkan Panca. Panca tetap bersikukuh ingin mengejar balon itu. Tak lama kemudian perawat datang hendak memberikan obat dengan menyuntikkannya ke tangan Panca. Sang ibu tidak tega melihatnya, ia pun ke luar kamar dan menangis sejadi-jadinya. Ia masih teringat jelas dengan kematian suaminya. *** Panca tertidur pulas oleh obat itu. sang ibu sudah menemaninya lagi di sampingnya walaupun telah mendapat ucapan kasar dari putranya. Keempat saudaranya juga menemaninya sambil menjaga Putri, anak pamannya yang masih berumur beberapa bulan. “Wik, sebaiknya kamu pulang. Bawa adik-adik juga. Kasian Putri, lagipula hawa di rumah sakit gak baik buat anak-anak.” Ujar Eka pada Dwi yang sedang menggendong Putri. “Iya, mas.” Jawab Dwi. Ia pun mengajak adik-adiknya pulang. Tak berapa lama kemudian, Riyanto datang ke kamar Panca. Rihana merasa bersalah ia pun segera menanyakan keadaan Putra. “Gimana Putra?” tanya Rihana “Putra akan saya bawa ke Luar negeri untuk pengobatan. Gimana Panca?” ujar Riyanto. “Kata dokter Panca juga harus dibawa ke rumah sakit yang lebih lengkap lagi. Dia harus segera mendapatkan donor jantung untuk menyembuhkan penyakitnya.” Jawab Eka. “Bagaimana kalo Panca ikut kami? Sekalian saya akan mengobati Putra?” Rihana pun terdiam, ia bingung terhadap apa yang harus ia lakukan. Mengerti yang dipikirkan kakaknya, Riyanto pun mengutarakan lebih jelas. “Masalah biaya biar kami berdua yang tanggung,” ujar Riyanto. “Tidak paman, Putra kecelakaan gara-gara Panca, mana mungkin kami membebani paman lagi,” ujar Eka. “Ayah saja, bisa bertahan hingga bisa hidup bersama kami. Panca pasti bisa!” lanjutnya. Rihana tersentak mendengar penuturan Eka yang mengingatkan pada sang suami. “Tidak, ayahmu setiap hari sebenarnya kesakitan dengan jantung buatan seperti itu. kalo Panca dengan usia segini aja harus merasakan sakit seperti ayahnya, itu sangat berat buat Panca. Bawa dia juga Riyanto, saya mohon,” pinta Rihana seraya menangis pada adiknya. “Iya, mbak. Saya akan berusaha semampu saya untuk menyembuhkan Panca.” Ujar Riyanto. Melihat ibunya begitu sedih Eka pun mengalah. “Baiklah, Kami akan menggantinya, berapapun biayanya nanti.” Jawab Eka tanpa melihat pamannya. Rihana berdiri dan menghampiri anaknya yang masih tertidur pulas dengan jarum infus di tangannya. Dibelainya rambut Panca, dan terbayang wajah suaminya pada wajah Panca. Eka tak sanggup melihat ibunya menahan kesedihannya melepas anak kesayangannya. Dihampirilah ibunya dan dipeluknya sang ibu. Rihana pun menangis begitu Eka memeluknya. Keesokan harinya Panca dan Putra diberangkatkan dengan menaiki pesawat. Terbang ke Singapura. *** Panca terbangun dari tidurnya. Beberapa jarum infus tertancap di tangannya. Alat pembantu pernafasan juga bertengger dimulutnya. Ia baru saja menjalani operasi transplantasi jantung. Dilihat sekelilingnya hanya ruangan putih bersih dan Lastri yang tertidur di sampingnya. Ia kebingungan tidak melihat ibu beserta saudaranya di sampingnya. Ia mau merengek tapi alat bantu pernafasan menghalanginya. Ia gerakkan jemarinya untuk membangunkan Lastri. “Ibu…ibu…” serunya. Lastri terbangun dan dipeluknya anak itu. “Anakku!” seru bibinya seraya menciumi kening Panca. “…” ***

Categories: E-Novel | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Informasi Herbal

Kumpulan Tanaman Obat di Indonesia

Ilmu Statistik & Analisis Data

Media Berbagi Pengetahuan & Pengalaman Statistik

GO ORGANIC

Just another WordPress.com weblog

Taufik Akbar Bakri

Don't Worry Be Happy | "Dan Allah bersamamu di manapun kamu berada"

Sendy Ralistiya

Mimpi dalam Dunia Maya

%d blogger menyukai ini: