Nama Saya Panca Muryono Eps. 2

_2-
Panca dipulangkan ke Jakarta sambil terus menjalani pemulihan. Sudah tiga tahun ia di Singapura menjalani pengobatan. Usianya kini beranjak delapan tahun. Setiap hari ia terus memikirkan kemana ibu dan saudaranya. Bahkan ia merasa asing dengan namanya sendiri, yaitu Putra Riyanto. Nama yang diberikan bibi dan pamannya begitu ia sadar dari komanya. Karena Putra anak kandungnya tidak berhasil diselamatkan.
Suatu hari ia bertanya kepada bibinya yang ia panggil mama karena ia menganggapnya ibunya.
“Ma, bukannya dulu kita pernah jalan-jalan di pantai, waktu itu kayaknya rame deh ma… itu Putra sama sapa aja yah ma?” tanya Panca dengan polos.
Lastri memangku anak yang dianggapnya Putra itu dan mulai mengarang cerita untuk membuat anak itu percaya.
“Waktu itu kamu sama mama dan papa juga anak-anak tetangga. Kebetulan mereka suka sama kamu, jadi mama sama papa ajak mereka juga jalan jalan buat jadi teman kamu.”
“Tapi tetangga kita kayaknya gak ada yang seperti bayangan Putra selama ini, ma.”
“Bukan tetangga di sini Putra, itu tetangga kita waktu kita di Sumenep. nanti kalo kamu sudah sembuh total, kita akan pulang ke sana,”
“Bener, ma? Kalo gitu aku mau cepet sembuh. Aku pengen bisa ketemu sama mereka,” ucap Panca kegirangan. Ia merasa sangat merindukan orang-orang yang sebenarnya adalah saudara kandungnya.
“Kalo gitu, Putra harus makan makanan yang baik. Jangan beli sembarangan di sekolah,.” Ujar Lastri.
Riyanto yang kini adalah papa Panca merasa bersalah mendengarnya. Ia yang duduk bersama Putri, adik Putra pun berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin serta merta membohongi anak itu, tapi juga tak kuasa memberitahukan sebenarnya karena ia juga tidak ingin melukai perasaan istrinya yang selalu merasa bahwa Putra masih hidup.
***
Panca terus tumbuh, dan ingatan mengenai masa lalunya ikut menghantuinya. Suatu malam, Panca bermimpi tentang masa lalunya. Saat ia di rumah sakit dan mendesak ibunya untuk bisa ke luar dari rumah sakit. Tapi wajah ibunya sangat samar baginya. Ia terus-terusan ketakutan hingga terbangun dari tidurnya. Ia pun segera membangunkan papanya.
“Pa, pa!!!” panggil Panca di depan kamar orang tuanya.
Riyanto dan Lastri langsung bangun dan menghampiri Panca.
“Ada apa, sayang?” ucap Lastri seraya mengusap keringat di dahi Panca.
Panca terkejut melihat mamanya masih ada di hadapannya. Dipeluknya mamanya dengan nafas yang masih terengah-engah karena ketakutan.
Riyanto dan Lastri keheranan melihat sikap Panca. Riyanto pun menganjurkan agar Lastri menemaninya tidur.
Lastri sangat menyayangi Panca, hingga lebih memperhatikannya dibandingkan memperhatikan Putri anak kandungnya sendiri.
Suatu hari, Panca dan Putri saat bermain bersama Putri terjatuh seraya berpegangan pada Panca hingga Panca pun ikut terjatuh. Walaupun hanya kecelakaan ringan, mamanya sangat menghawatirkan Panca begitu ia mendengar mereka berteriak.
“Putra… putra!!” teriak mama dari dapur dan berlari menghampiri Panca. “Mana yang sakit? Mana yang sakit?” tanyanya seraya mengelus-elus dahi Panca, takut anak itu terluka.
“Putri, ma. Jatuh terus pegangan ke Putra, jadi Putra ikut jatuh.” Keluh Panca.
Mama pun melihat ke arah Putri yang juga menangis kesakitan.
“Kamu tuh!” seru mamanya menyalahkan Putri.
“Putri gak sengaja, ma!” ucap Putri sambil terus menangis.
***
Riyanto menghampiri istrinya begitu semua anak tidur.
“Papa dengar dari Putri, mama menyalahkan Putri karena Putra jatuh, benar itu, ma?” ujar Riyanto.
“Putri ngadu ke papa?” ucap Lastri.
“Jelas dia ngadu! Dia anak kita, ma.”
“Ngerti, pa. Tapi Putri kelewatan. Putra itu belum sembuh benar, pa. Itu bisa fatal buat Putra!”
“Tapi mama gak bisa nyalahkan Putri! Putri juga gak sengaja narik baju Putra. Lagipula Putri juga kesakitan. Harusnya mama juga perhatikan dia!”
“Iya!”
Mendengar sikap keras istrinya, Riyanto hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan bergegas tidur.
***
Panca beranjak remaja dan sudah mulai mencari arti kebebasan.
Sore hari saat itu, Lastri keheranan menghitung obat Putra tidak berkurang. Sedangkan Putra tidak tahu pergi kemana. Lastri pun berusaha mencarinya.
“Putri, kamu tahu mas kamu pergi kemana?” tanya Lastri pada Putri yang sedang asyik dengan tivinya.
“Gak tahu, sejak kapan Putri ikut campur urusan anak itu!” jawab Putri dengan santai.
“Putri! Dia itu mas kamu!”
“Dia itu anak mama! Bukan masnya Putri!” Putri tetap acuh dengan perkataan ibunya.
Lastri sangat kesal dengan jawaban anaknya. Ia pun bergegas mencari sendiri anaknya.
Sementara Putri teringat saat ia masih kecil, ia tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya yang membicarakan Putra yang ternyata bukan anak kandung mereka. Tapi Putri sangat kesal, padahal Putra bukan siapa-siapa, tapi mamanya lebih menyayangi Putra.
Lastri menelpon beberapa teman dekat Panca, tapi mereka tidak tahu keberadaan Panca, hingga begitu Riyanto pulang, Lastri pun mengadukan hal ini kepada suaminya tersebut. Riyanto pun membawa istrinya menaiki mobil untuk bersama-sama mencari Putra. Di sekolah tidak ada… di jalanan pun tidak ada. Ke tempat ia biasa bermain pun tidak ada. Mereka berdua sangat khawatir. Karena tidak menemukan di mana-mana, Riyanto pun membujuk istrinya untuk pulang. Ternyata begitu pulang, Panca sudah ada di rumahnya. Lastri pun segera menghampiri Panca dan memeluknya.
“Kamu darimana aja?” tanya Lastri seraya melepaskan pelukannya.
“Gak kemana-mana kok ma, Cuma ke pantai. Baguus banget pantainya.” Ujar Panca menenangkan ibunya.
“Terus, kenapa kamu gak minum obat kamu?”
“Yya… sekarang aku mau minum…” ucap Panca seraya mengambil obat di tangan mamanya dan meminumnya.
“Mama gak usah khawatir, ya… Putra janji gak akan pernah meninggalkan mama lagi tanpa ijin mama.” Ujar Panca seraya mencium pipi Lastri untuk menghiburnya.
“Putra, untuk apa kamu ke pantai?” tanya Riyanto.
“Suka aja sama suasana pantai.” Jawab Panca.
“Benarkah? Oh ya, mulai besok kita harus siap-siap, karena dua hari lagi, kita akan kembali ke Sumenep. Kamu bisa jalan-jalan ke pantai yang selalu kamu rindkan itu,” Ujar Riyanto
Lastri terkejut dengan penuturan suaminya.
“Untuk apa kita kembali ke sana? Putra sama Putri lebih baik sekolah di sini, pa.”
“Ma, kita harus pulang!” Riyanto berusaha mengingatkan istrinya secara tersirat.
“Bener, pa? Aku juga pengen ke Sumenep!” seru Panca.
Lastri melihat ke wajah Riyanto merasa tidak suka dengan keputusan suaminya.
***
Panca menghampiri adiknya di kamarnya.
“Uti!” panggilan sayang kepada adiknya.
“Ngapain ke sini? Mau pamer karena udah dicari mama ke mana-mana,” sindir Putri seraya terus membaca bukunya.
“Iya dunk! Kenapa? Gak suka?” ledek Panca.
“Ih! Dasar anak manja!”
“Biarinn! Oh ya, siap siap gih! Dua hari lagi kata papa kita akan pulang ke Sumenep.”
Putri menutup bukunya dan menghampiri Panca yang bersandar di pintu kamarnya.
“Yang akan pulang itu kamu! Bukan kita!” Putri menegaskan penuturannya.
Panca pun bangun dari bersandarnya.
“Kamu sama sekali gak pernah menghormati, mas. Apa sih yang ada di otakmu!” ujar Putra seraya menunjuk dahi Putri.
Putri menghindar dari jari Panca dengan sinisnya.
“Hm… sudahlah… mu ikut ato ga, terserah!” ujar Panca hendak meninggalkan kamar Putri.
“Kamu bukan kakakku!” gerutu Putri.
Panca pun menghentikan langkahnya dan memalingkan wajahnya ke Putri. Ia mengepalkan tangannya erat-erat.
“Apa maksudmu?” tanya Panca geram.
Putri hanya tersenyum sinis.
***

Categories: E-Novel | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Informasi Herbal

Kumpulan Tanaman Obat di Indonesia

Ilmu Statistik & Analisis Data

Media Berbagi Pengetahuan & Pengalaman Statistik

GO ORGANIC

Just another WordPress.com weblog

Taufik Akbar Bakri

Don't Worry Be Happy | "Dan Allah bersamamu di manapun kamu berada"

Sendy Ralistiya

Mimpi dalam Dunia Maya

%d blogger menyukai ini: