Nama Saya Panca Muryono Eps. 3

Sementara itu…keluarga kandungnya terus berusaha mencari uang untuk biaya hidup mereka sehari-hari. Mereka tidak mau menerima sepeserpun dari keluarga Riyanto, karena itu sama saja dengan menjual Panca. Ibu mencari uang dengan menjahit dan mencuci pakaian tetangganya, Eka berhenti sekolah untuk bekerja sebagai buruh di pasar, Dwi bekerja sebagai pelayan di minimarket, sedangkan Tri dan Patra diusahakan tetap mengeyam pendidikan sambil membantu ibunya di rumah.
Hingga 10 tahun berikutnya…
Rihana terus menjahit, di sampingnya terletak foto ketujuh anggota keluarganya. Tri yang baru keluar kamarnya seraya membawa keranjang, menaruh keranjang tersebut ke samping ibunya.
“Ibu, ada baju-baju yang udah selesai?” tanya Tri.
Rihana pun berhenti menjahit dan diambilnya beberapa baju dari keranjangnya sendiri.
“Ini dua baju yang merah punya ibu Mila yang diperempatan sana, terus yang coklat itu yang punya teman kamu, si Rista.” Setelah menaruh beberapa baju di keranjangnya, ibu mengambil rantang di atas meja. “Sekalian antar ke tempat kerja Mas Eka-mu, ya. Kamu gak apa apa kan telat?”pinta ibunya seraya memberikan rantang itu pada Tri.
“Gak apa-apa kok, bu. Dosennya juga sering telat,,,” ucap Tri seraya tersenyum menghibur ibunya dan membawa keranjang beserta rantang makanan. Tri pun mencium tangan ibunya seraya berpamitan. “Assalamu’alaikum, bu.” Tri pun meninggalkan ibunya.
“Wa’alaikumsalam warohmatullah wabarakatuh,” jawab ibunya. Setelah Tri meninggalkan pintu rumahnya, ia pun membalikkan badannya untuk menjahit kembali. Tiba-tiba matanya tertuju pada foto keluarga yang terpampang tak jauh dari tempatnya berdiri. Air matanya menetes begitu saja.
“Assalamu’alaikum,” tiba-tiba Patra datang mengejutkannya. Rihana pun segera menghapus air matanya dan menjawab salam anaknya.
“Wa’alaikumsalam warohmatullah wabarakatuh,” Rihana pun segera menghampiri meja makan dan mempersiapkan piring dan makanan untuk putranya itu. Patra pun menghampiri ibunya.
“Patra bisa sendiri kok, bu.” Patra pun mengambil piring yang dipegang ibunya. “Ibu, lanjutin aja menjahitnya…” lanjut Patra.
Rihana hanya tersenyum dan mulai menjahit lagi.
Tak beberapa lama kemudian, sebuah mobil sampai ke depan rumah mereka. Seseorang ke luar dari mobil tersebut dan mengetuk pintu rumah.
“Assalamu’alaikum,” ucap pria berpakaian rapi saat mengetuk pintu yang telah terbuka.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,” jawab Rihana seraya menghampiri pria itu dan mempersilahkan duduk.
Patra terus saja meneruskan makannya tanpa mempedulikan pria itu begitu tau pria itu adalah Sanur, manajer sekaligus kekasih kakaknya yang setiap hari selalu menjemput kakaknya.
Dwi pun ke luar dari kamarnya dengan dandanan yang cantik dan pakaian yang rapi.
“Bu, Wiwik berangkat dulu.” Pamit Wiwik seraya mencium tangan ibunya kemudian menghampiri adiknya dan membelai rambut adiknya itu.
“Hadeeh, kebiasaan!” ucap Patra seraya menghindarkan kepalanya dari tangan kakaknya.
Sanur pun berdiri dan berpamitan pada Rihana dan mereka berdua pun meninggalkan rumah.
“Kapan pria itu ngelamar mbakmu?” gumam Rihana.
“Hamm..mbak Wiwik ga suka beneran lho bu, sama cowok itu.” ucap Patra sambil mengunyah makanan.
“Tapi kalo terus berdua seperti itu, ibu jadi kuatir.”
“Tenang bu, Patra pernah liat mbak Wiwik hampir dijahilin sama mantannya dulu. Hm.. mbak Wiwik bisa karate!”
“Moso’ seh?”
“Hm… ibu gak liatin mbak Wiwik sih kalo di kamar. Mbak mesti latian karate!”
Tiba-tiba gadis belia datang bersama ibunya.
“Assalamu’alaikum…” sapa mereka yang ternyata adalah ibu Wiryo dan putrinya yang merupakan tetangga Rihana.
“Eh, bu wiryo sama Ramona,, masuk.” Pinta Rihana.
Bu Wiryo pun duduk, tapi putrinya menghampiri Patra.
“Apa sih??”
“Kak Patra, aku sayang kakak…” ucap Ramona seraya tersenyum manja pada Patra.
Patra baru menyelesaikan makannya dan meninggalkan Ramona.
“Ih,” gerutu Ramona.
“Bu Yon (panggilan untuk bu Muryono/ Rihana),” panggil Bu Wiryo seolah ingin mengatakan sesuatu.
“Ada apa, bu…?”
“Tadi pagi waktu saya jalan-jalan ke RT sebelah sama Ramona, saya lihat pak Ratno yang dulu sering jadi suruhannya Pak Riyanto sudah mulai bersihkan rumah Pak Riyanto, saudara ibu yang sekarang menetap di Jakarta.”
“Bersih bersih? Tumben? Apa Riyanto mau pulang?” Rihana tidak sabar mengharap mendengar berita baik.
“Nah itu dia, saya coba tanya-tanya tentang pak Riyanto. Katanya Pak Riyanto pulang, makanya Pak Ratno bersih-bersih. Gak tau sih kapan tepatnya. Yang pasti mereka akan datang SE CE PAT NYA.” Ujar Bu Wiryo sambil menegaskan kata terakhirnya.
Rihana langsung tersentak kaget. Patra yang baru saja menaruh piringnya di dapur, mendengar hal tersebut ia langsung berdiri di balik tembok untuk mendengarkan pembicaraan ibunya dan tetangganya itu.
“Sudah 10 tahun ya bu, Panca pasti udah gede… kata Pak Ratno, Panca udah sehat, dan udah siap untuk dibawa pulang. Katanya sih, tiga tahun lamanya Panca diobati di Singapura, terus selama ini dia dirawat untuk pemulihannya di Jakarta. Kira-kira masih ingat sama kita gak ya?” ujar Bu Wiryo.
Patra teringat dengan pengorbanan keluarganya untuk mengharap Panca bisa kembali. Bagaimana sedihnya Dwi dan Eka saat harus meninggalkan pendidikan yang sangat penting bagi mereka, bagaimana ibu tidak kenal lelah untuk mencari nafkah, dan bagaimana sayangnya Eka dan Dwi pada Panca hingga merelakan apa pun untuk Panca, padahal mereka tahu, bibinya sengaja tidak pernah memberikan kabar apapun tentang Panca. Patra pun mengepal keras tangannya seolah sangat membenci saudara kandungnya itu karena semua orang begitu menyayangi Panca.
Sementara Rihana mengelus dadanya dan pandangannya tertuju pada foto keluarganya seraya tersenyum. Ia merasa mendapat harapan kembali.
“Panca itu siapa, ma?” tanya Ramona, gadis berumur 14 tahun ini dengan polosnya membuyarkan khayalan Rihana.
Rihana pun tersenyum dan membelai kepala Ramona seraya berkata,
“Panca pasti udah segede Ramona, ya bu?” ujar Rihana.
Bu Wiryo ikut tersenyum.
“Panca akan jadi teman kamu nanti. Jadi kamu pasti akan kenal dia,” ujar bu Wiryo pada putrinya.
Ramona hanya keheranan melihat kedua ibu itu tersenyum seolah ada hal yang membahagiakan bagi mereka.
***
Begitu Bu Wiryo dan putrinya pergi, Patra pun ke luar dari persembunyiannya dan duduk di samping ibunya. Rihana sambil terus menjahit baju, Patra pun mengajaknya bicara.
“Apa Panca masih inget kita?” ujar Patra menyindir.
Rihana langsung terhenti dan pandangannya tertuju pada Patra.
“Iya, ya. Bagaimana keadaanya sekarang?” Rihana mulai membayangkan. Ditaruhnya kain yang sedang ia jahit, kemudian ia memangku dagunya di atas telapak tangan kanannya.
“Gak usah jauh jauh dulu, bu. Masalahnya sepuluh tahun hidup bersama keluarga kaya, dan pergi meninggalkan kita di usianya yang masih 5 tahun. Saya aja bu, yang waktu itu umur 7 tahun aja, inget ga inget sama Panca. Apalagi Panca, yang meninggalkan kita saat dia gak sadar,” ujar Patra.
Rihana terdiam sejenak memikirkan apa yang dikatakan putranya, kemudian tersenyum seraya berkata,
“Yang penting Panca masih hidup, itu sudah cukup buat ibu.” Jawab Rihana seraya meneruskan kembali menjahitnya.
Patra begitu geram mendengar jawaban lugas dari ibunya. Di satu sisi, ia turut bahagia saudaranya masih hidup, di sisi lain ia merasa iri dengan Panca yang begitu berharga bagi ibunya.
***
Malam harinya, saat Dwi baru saja datang dari tempat kerjanya ia mendengar suara lirih ibunya yang menangis. Sementara Patra dan Tri sudah tertidur pulas di kamarnya. Dwi pun menghampiri ibunya di kamarnya yang menangis sambil berbaring. Dwi duduk di samping ibunya. Begitu sadar ada Dwi di sampingnya, ibu pun bangun dan memeluk Dwi.
“Kenapa, bu?”
Rihana pun melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. Dwi pun mengelus punggung ibunya untuk menenangkan.
“Kata bu Wiryo, Pamanmu Riyanto akan segera balik ke Sumenep.”
Dwi tersentak kaget tapi kemudian ia menahan dirinya di hadapan ibunya.
“Terus kenapa ibu sedih? Bukannya itu berita baik? Berarti Panca akan segera pulang,”
“Ibu takut Panca gak inget sama ibu, hu..hu..hu..” Rihana pun menangis kembali.
Dwi pun memeluk ibunya.
“Panca anak ibu, saudara kita. Mungkin bener ia gak akan inget kita. Tapi setelah ketemu kita tiap hari, Panca akan inget kita perlahan. Bagaimanapun, kita udah melewatkan semuanya bersama.”
Dwi melepas pelukannya dan ia pun menyeka air mata ibunya seraya berkata,
“Ibu tenang aja yah… yang penting sekarang, Panca udah sembuh dan kita bisa liat Panca tiap hari. Hm… seperti apa ya Panca sekarang,” ujar Dwi seraya mengajak ibunya tersenyum.
Rihana pun mulai tenang mendengar putrinya menenangkannya.
***
Begitu Rihana tertidur, Dwi pun ke luar dari kamar ibunya itu. Ia berjalan menuju foto keluarganya. Dipandangnya dalam-dalam gambar wajah adik kesayangannya itu. tanpa sadar air matanya pun menetes, mengingat tangis adiknya saat baru lahir yang wajahnya sangat mirip dengan ayahnya. Ia teringat ayahnya yang begitu bangga menggendongnya untuk pertama kali. Tawa kecil Panca yang begitu riuh, kepolosan Panca, semua tentang Panca membuatnya sangat merindukannya. Dwi terus menahan sesak di dadanya, khawatir orang lain mendengarnya menangis.
***
Pagi sekali Dwi mengunjungi rumah kakaknya yang juga tak jauh dari rumahnya. Di rumahnya ia ditemui oleh kakak iparnya, Minah.
“Wiwik, pagi banget. Masuuk deh.” Ajak kakak iparnya.
Dwi pun masuk dan mengajak bermain keponakannya yang masih berumur dua tahun itu. Sementara Minah memanggil suaminya.
“Tumben, wik.. biasanya jam segini udah sama cowokmu yang konglomerat itu,” ledeek Eka seraya duduk di samping anaknya.
“Hm,, ya sekali sekali libur dunk pacarannya. Yar uangnya gak habis buat nraktir saya, mas…” jawab Dwi lugas.
“Uh!” Eka menyentil dahi adiknya itu.
“Aduuh!” Dwi menggosok dahinya bekas sentil kakaknya.
“Macem-macem aja ni anak! Awas ya…jaga diri! Bagaimanapun juga kamu itu cewek!” ujar kakaknya.
“Iya bawel!” ketus Dwi. “Mas, ada berita bagus!”
“Apa, cowokmu mau ngelamar? Bagus lah…” ledek kakaknya lagi seraya mengajak bercanda anaknya.
Minah datang membawa minum untuk Dwi kemudian duduk dekat mereka.
“Jangan diputus dulu adekmu cerita, mas. Ayo wi cerita! Ada kabar apa, Wi?” tanya Minah.
“Gak apa apa mbak…” Dwi terdiam melihat kakak iparnya duduk di sampingnya.
“Kenapa Wik!” bentak kakaknya menggoda Dwi.
“Ih! Mbak Minah tau gak soal Panca?” tanya Dwi.
Wajah Eka langsung berubah serius mendengar sebuah nama yang akhir-akhir ini mulai agak asing.
“Panca? Adik Mas Eka kan? Yang sakit itu? Udah ada kabar tentang dia?” tanya Minah sebagai tanda ia telah mengetahui cerita tentang Panca.
“Oh, berarti mbak udah tahu ya…?” ujar Dwi. Ia pun kembali mengajak bicara Eka.
“Mas, denger denger sih, Paman akan balik ke Sumenep.”
“Kapan?” tanya Eka tanpa melihat wajah adiknya.
“Secepatnya,” jawab Dwi.
***
Eka mendengar dari pak Ratno yang merupakan ayah mertuanya bahwa Panca telah pulang. Eka pun segera ke rumah pamannya tanpa memberi tahu saudara-saudaranya. Diketuknya beberapa kali rumah pamannya tak jua ada yang menyahut.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Eka, seraya berkata:
“Cari sapa?”
Eka tersentak kaget, ia pun membalikkan badannya. Ia melihat pemuda yang raut wajahnya begitu mirip dengan ayahnya. Ia pun segera tahu siapa anak laki-laki yang berdiri di depannya kini.
“Panca?”
Seseorang yang kini bernama Putra itu tidak mengingat dirinya bernama Panca.
“Hm???” Panca keheranan.
“Panca?” Eka masih keheranan melihat Panca tapi di sisi lain ia bahagia. Eka pun memeluk tubuh Panca seraya terus memanggil nama Panca. “Panca!!”
“Ets! Ini sapa sih?” tanya Panca seraya berusaha melepaskan pelukannya dari Eka.
Eka pun melepaskannya.
“Ini mas Eka, kamu uudah lupa???””
“Namanya PUTRA RIYANTO!!” ucap Lastri yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
“Apa, mana mungkin, Siapa namaamu??” tanya Eka tak ercaya.
“Putra, dan itu mamaku, kau siapa?”
“Lalu Panca?”
“Dia sudah …”
“Mama!” Riyanto segera menghentikan Lastri.”Eka, ayo kita bicara!” Riyanto mengajak Eka mengikutinya.
Panca pun menghampiri Lastri karena heran dengan apa yang baru terjadi.
“Apa yang mau dikatakan papa? Terus, siapa itu Eka dan siapa itu Panca?” Tanya Panca.
“Eka itu sepupumu, dia punya adik bernama Panca yang ikut bersama kita untuk berobat. Dan papa kamu akan menjelaskan padanya bahwa adiknya telah meninggal!” Jawab Lastri.
Panca tersenyum mendengar jawaban mamanya.
“Mama tenang sekali. Bukankah itu kabar duka? Bagaimana jika mama yang ada di posisinya?” Ucap Panca lugas.
Lastri terkejut mendengar Panca. Panca melihat perubahan sikap mamanya. Ia pun mendekati Lastri dan memeluknya.
“Aku hanya bercanda, ma…” ujar Panca.
Lastri tetap tak bergeming. Ia meyakînkan dirinya bahwa Putra masih hidup.
Sementara itu Riyanto menceritakan yang sebenarnya pada Eka.
“Berapa semua biaya pengobatan Panca, paman?
Riyanto terdiam bingung harus darimana menceritakannya.
“Paman? Melihat pamannya tak berkutik menjawab, Eka berpikir pamannya menghindarinya.
Apa paman berniat menggantikan Putra dengan Panca?
Paman, harusnya paman lebih mengerti, siapapun tidak bisa menggantikan Putra.
Menurutmu, berapa yang harus kau bayar dari jantunhg Putra yang ada di tubuh Panca?
Maaf paman, saya turut berduka atas kepergian Putra. Tapi bagaimanapun juga Panca adik kami. Ibu sudah sangat merindukan Panca.” Ujar Eka.
“Saat kau merindukannya kau masih bisa melihatnya. Sedangkan kami, seberapapun kami merindukannya, Putra tidak akan pernah kembali.”
Eka merasa bersalah mendengarnya.
“Bukan hanya itu, Putra sudah banyak berkorban untuk Panca. Ia mendonorkan jantungnya.”
“Apa?”
“Ya, dia merasa dia yang membuat Panca seperti ini.”
Eka pun mengerti mengapa bibinya tidak merelakan Panca kembali ke sisi keluarganya.
Boleh kita bicara di dalam? Saya Eka, keponakan Pak Riyanto.” Ucap Eka mengingat sang adik tidak mengetahui siapa dirinya.
Eka pun memperkenalkan dirinya pada Panca baik baik.
“Jadi mas ini masih sepupu saya? Waahh.. boleh saya ke rumah mas Eka? Saya kangen dengan suasana di sini.” Pinta Panca.
Eka hanya mengangguk.
***
Panca dan Eka berjalan kaki menuju rumahnya. Sesekali ingatan masa lalu melintas di pikiran Putra. Ia merasa pernah menyusuri jalan ini. Dilihatnya beberapa rumah. Ia pun merasa pusing dan…
“Mas,” keluh Panca seraya memegang tangan Eka. Eka pun langsung berhenti mulai khawatir dengan keadaan adiknya.
“Kenapa?” tanya Eka sambil memperhatikan wajah Panca yang merunduk pucat.
Panca melihat wajah eka dan merasa tenang kembali.
“Ngga mas, masih jauh?” tanya Panca seraya melepaskan tangannya.
“Nggak kok, tinggal dua rumah lagi. Itu rumas, mas.” Jawab Eka seraya menunjukkan rumah keluarganya yang sederhana. “Itu rumah ibu saya, dan di depannya itu rumah saya. Kita ke rumah ibu dulu, ya.” Lanjut Eka. Panca hanya mengangguk dan terus mengikuti Eka.
Begitu sampai di rumah,
“Assalamu’alaikum,” sapa Eka.
“Wa’alaikumsalam, masuk mas!” jawab Patra dari dalam rumahnya, ia cukup kenal dengan suara kakaknya.
Eka dan Panca pun masuk menghampiri Patra. Patra keheranan melihat orang asing di samping kakaknya.
“Siapa mas?” tanya Patra.
Eka tidak menjawab pertanyaan adiknya. Ia langsung mengenalkan pada Panca.
“Putra, ni adik mas, namanya Patra.” Ucap Eka pada Panca.
“Ehm, Saya Putra. Masih ingat saya?” tanya Panca balik.
“Hm…oh ya ya ya… mas jemput anak ini.” Sindir Patra.
“Gimana mas? Udah ketemu paman?” tanya Dwi yang baru keluar dari kamarnya. “Itu siapa, mas?” tanya Dwi begitu melihat Eka bersama orang asing.
Singkat cerita, Dwi, Patra, dan Tri yang kebetulan saat itu ada di rumah telah mengetahui keberadaan Panca dan perubahannya. Sayang, sang ibu, Rihana sedang keluar untuk membeli sayur di pasar.
Di ruang tamu, kelimanya berbincang.
“Gimana sama sakit kamu? Sudah sembuh?” tanya Dwi.
“Ehm… AlhamduliLLAH udah. Ya, selama di Singapura itu saya menjalani operasi beberapa kali, terus di Jakarta dirawat terus menjalani terapi beberapa kali juga. Sekarang aja masih tetep minum obat. Katanya sih buat penambah daya tahan tubuh. Tapi saya sih bosen minum mulu. Kalo setahun ini saya bisa gak kumat kumat lagi, katanya mau dihentikan minum obatnya.”
“Oh ya? Berarti bisa dikatakan kamu akan sembuh total?” tanya Tri.
“Insya’Allah…” jawab Panca.
“Terus selama kamu di sana, apa aja yang kamu inget tentang kita?” tanya Dwi lagi.
“Gak begitu banyak sih, cuma kalo di rumah tu ketemunya sama Putri mulu. Kadang kepikiran kayaknya dulu rumah rame gitu..”
“Kamu emank sering maen sama kita,” ujar Tri.
“Iya, percaya kok.. itu foto saya sama keluarga kalian kan?” ujar Panca sambil menunjuk foto keluarga yang terpampang tidak jauh dari ruang tamu mereka.
Dwi dan Tri bingung menjawabnya.
“Ya, pasti enak ya hidup di keluarga kaya dengan makanan yang serba ada.” Sindir Patra.
“Huumh… oh ya rumah kalian sepertinya gak pernah direnovasi, ya? Sampe reyot gini.” Ujar Panca seraya memperhatikan atap-atap rumahnya.
Mata keempatnya pun tertuju pada Panca. Panca langsung mengerti dan memperbaiki ucapannya.
“Hm ga bermaksud menghina kok, saya mau menawarkan diri. Gimana kalo kita renovasi rumah ini. Papa saya pasti mau membantu kalian. Papa saya…” belum selesai Panca bicara Patra mendekati anak itu dan menarik kerah bajunya. Eka pun mendatangi mereka berusaha untuk melerai.
“Hei! Anak orang kaya baru! Asal kamu tahu, ya! Kita punya uang untuk merenovasi rumah ini, tapi kita tidak gunakan! Kita selalu menabung untuk…”
“Patra lepaskan!” Eka membentak Patra bermaksud agar Patra tidak menceritakan semuanya.
“Biar aja, mas. Biar dia tahu yang sebenarnya!”
“Gak Perlu!” Dwi berdiri dari tempat duduknya. “Lepaskan dia Patra!” ujar Dwi. Patra pun melepaskan Panca. “Putra, terima kasih untuk tawaran kamu. Tapi kami dari dulu emank gak pernah bergantung sama paman.”
Panca merapikan kerah bajunya.
“Ya terserah kalo gak mau. Saya juga gak bisa maksa. Saya aneh aja gitu, kenapa semua orang di sini benci sama papa saya. Apa sebenarnya kalian dendam sama papa saya? Memangnya salah, kalo papa saya lebih kaya dari kalian?” ujar Panca.
“OH, jadi ini didikan mereka sama kamu? Kamu tumbuh menjadi anak yang sombong dan angkuh.” Eka mulai tidak terima dengan perkataan adik kesayangannya itu.
“Maaf mas. Anda boleh mengatai saya apa pun itu. tapi jaga ya perkataan anda mengenai orang tua saya!”
“Pergi dari rumah ini! Kamu tidak pantas ada di rumah ini!” Dwi menegaskan kata-katanya pada Panca.
Panca tersenyum sinis, dan berkata
“Hm,, Rumah ini yang gak pantas saya hampiri!”
“Cepat Pergi!” Tri ikut marah akan perkataan Panca dan ikut mengusirnya.
Panca pun segera ke luar dari rumah itu.
Sementara Rihana bergegas menuju rumahnya. Ternyata ia mampir ke rumah Riyanto begitu mendengar dari Bu Wiryo bahwa anaknya telah pulang. Tapi Riyanto mengatakan putranya telah berada di rumahnya. Dalam perjalanan menuju rumahnya, ia berpapasan dengan Panca. Karena begitu tergesa-gesa ia tidak peduli dengan disekitarnya. Sementara Panca melihat Rihana, ia merasa kenal dengannya. Namun ia berusaha tidak mempedulikannya dan terus berjalan pulang.
Sesampainya di rumah, Rihana terkejut melihat Dwi menangis. Rihana pun menghampiri keempat anaknya.
“Apa yang terjadi? Mana Panca?”
“Panca udah berubah, bu. Dia bukan lagi adik yang kita kenal selama ini.” Ujar Tri.
“Maksud kalian apa?”
“Dia benar-benar sudah melupakan kita, bahkan dengan lidahnya sendiri, dia berani menghina kita!” ucap Patra.
“Lalu sekarang dia dimana?”
“Kita mengusirnya!” jawab Eka.
Rihana pun terduduk mendengar perkataan ketiga anaknya.
***

Categories: Kampus Cemara Udang | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Informasi Herbal

Kumpulan Tanaman Obat di Indonesia

Ilmu Statistik & Analisis Data

Media Berbagi Pengetahuan & Pengalaman Statistik

GO ORGANIC

Just another WordPress.com weblog

Taufik Akbar Bakri

Don't Worry Be Happy | "Dan Allah bersamamu di manapun kamu berada"

Sendy Ralistiya

Mimpi dalam Dunia Maya

%d blogger menyukai ini: